BBKSDA SUMATERA UTARA

DISKUSI BERSAMA BBKSDASU DENGAN PENGGIAT KONSERVASI

1.jpgPenggiat konservasi bersama BBKSDA Sumut, BBTNGL dan Mitra

 Medan, 29 April  2021

Selama 2 (dua) hari pada tanggal 23 – 24 April 2021 BBKSDA Sumatera Utara bersama penggiat konservasi sebanyak 50 (lima puluh) orang terdiri dari Kader Konservasi Alam, Komunitas Pecinta Alam, Gras, TKP, Reaksi Peduli, Tafahum, Wiyagrawana, Mapala Genetika FP UISU, Sispala Wana Bumi MAN  1 Medan, Alam Raya Nusantara, serta Penggiat Lingkungan lainya melaksanakan diskusi bersama terkait keselarasan bidang ekologi, ekonomi dan sosial di Cafe Kuta Garunggung Village Kec. Kuala Kab. Langkat. Kegiatan ini didukung atas kerjasama BBKSDA Sumut dengan ISCP, KUN, KAKHI, BBTNGL dan BPSKL Wilayah Sumatera.

Kegiatan diskusi ini dibuka secara resmi oleh Kepala BBKSDA Sumatera Utara yang diwakili Suyono, S.H, M.Si, Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan, Dalam sambutannya, disampaikan bahwa penggiat konservasi dan masyarakat agar tetap semangat serta berperan aktif membantu pemerintah dalam kegiatan konservasi sumber daya alam.

Diskusi konservasi diisi dengan penyampaian materi dari beberapa narasumber, antara lain materi konservasi yang disampaikan oleh Ida Marni, staf BBKSDA Sumatera Utara, bahwa konservasi terintegrasi pada semua aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap orang menyadari keberadaan SDA hayati dan ekosistemnya sebagai sumber kehidupan. Artinya bagaimana kita harus mampu menselaraskan semua aktifitas dan kebutuhan hidup dengan ketersediaan sumber daya alam, mengingat ketersediaanya yang terbatas.  Artinya bagaimana keselarasan ekonomi ekologi dan sosial mampu diwujudkan. Selain itu, mengingatkan juga bahwa penggiat konservasi, nantinya akan ditetapkan sebagai Kader Konservasi Alam yang memiliki peran serta untuk konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, berdasarkan keahlian di bidangnya masing-masing.

Sebagai contoh, masyarakat Desa Gerunggang memanfaatkan jasa lingkungan alam sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan memanfaatkan objek wisata alam yang sangat menarik dengan menyuguhkan view kawasan TNGL. Selain itu juga masyarakat secara swadaya melakukan budidaya aren sebagai sumber penghasilan ekonominya. Terlepas dari itu semua kelompok masyarakat Desa Gerunggang selaku penggiat konservasi juga aktif berperan serta dalam penyuluhan dan penyelamatan orangutan meskipun orangutan mengambil juga hasil panen kebun, tetapi mereka beranggapan bahwa itu bukan sebuah konflik manusi dengan satwa liar.

Selanjutnya, penyampaian materi dari Kepala Resort Bekancan Balai Besar TNGL, John Maruli Purba tentang penanganan konflik satwa. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan upaya-upaya dan pengalaman dalam penyelamatan Harimau Sumatera di wilayah TNGL yang sudah banyak memakan korban khususnya ternak. Oleh karena itu dihimbau kepada pemilik ternak agar membangun kandang ternaknya untuk menghindari serangan Harimau Sumatera (Panthera tigris) atau yang sering disebut TPE, tiger proof enclosure, kandang anti serangan harimau.  Selain itu juga mengajak penggiat konservasi untuk tidak mengganggu habitat Harimau Sumatera maupun melakukan perburuan terhadap satwa liar lainnya.

Materi selanjutnya dari ISCP (Indonesia Species Conservation Program), Rudianto Sembiring tentang penanganan satwa liar. Beliau menyampaikan agar tidak memelihara satwa liar dan membiarkannya hidup di alamnya, agar fungsinya dalam menjaga keseimbangan ekosistem tetap berjalan. Selama ini, ISCP bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah banyak melakukan penyelamatan serta pelepasliaran satwa liar khususnya jenis kukang.

Materi terakhir disampaikan oleh Samuel Siahaan, SP dari BBKSDA Sumatera Utara menyampaikan materi tentang wisata alam dengan menekankan pengembangan wisata alam berbasis masyarakat di Desa Gerunggang dan mengusung 5 (lima) kegiatan pelestarian lingkungan yaitu Konservasi, Edukasi, Ekonomi, Pemberdayaan Masyarakat dan Rekreasi.

Setelah penyampaian materi, dilanjutkan dengan sesi diskusi atau sharing pengalaman dari para penggiat konservasi, Purnama Ginting, diselingi dengan memutar video wisata alam Desa Gerunggang. Harapan kedepannya, penggiat konservasi mampu menjadi penggerak dalam pelestarian hutan yang sudah rusak maupun yang dirambah.

Kegiatan esok harinya, 24 April 2021, bersama-sama dilakukan penamanan pohon jenis Manggis, Mahoni, Aren, Asam Gelugur di Area Cafe Kuta Garunggung Village

2.jpgPenanaman pohon di Area Cafe Kuta Garunggung Village

Terakhir pada acara penutupan, Samuel Siahaan, SP mewakili Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta dan mitra konservasi yang hadir. Selainitu juga disampaikan bahwa peran serta dan keaktifan para penggiat konservasi yang berjasa dalam kegiatan konservasi sumber daya alam akan diberikan apresiasi penghargaan Wana Lestari maupun Kalpataru oleh pemerintah setiap tahunnya. (Samuel Siahaan SP & Ida Marni, Staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara)

 

 

 

 

%d blogger menyukai ini: