BBKSDA SUMATERA UTARA

Melawan Lupa : Mengenang Kader Konservasi Yang Telah Berpulang (2)

8888

Medan, 18 Maret 2021

Bila edisi kemarin “Mengenang Kader Konservasi Yang Telah Berpulang” menampilkan 3 sosok kader konservasi mewakili generasi tua, kali ini sosok yang ditampilkan adalah mewakili generasi muda yang energik dan kreatif.

 (Alm.) Saiful Bahri, sosok kader konservasi yang dikenal aktif dalam memperjuangkan Ekowisata Tangkahan. Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc., dalam bukunya “Wisata Intelektual Catatan Perjalanan 2005-2020”, menulis “selama 3 tahun membenahi Taman Nasional Gunung Leuser, terjadilah Kongres Rakyat Pedesaan Batas Leuser di Sumatera Utara di Tangkahan, suatu tempat di pinggir hutan Leuser di Kabupaten Langkat. Suatu momentum untuk mendorong komunikasi asertif dan kerjasama dalam menyelesaikan berbagai persoalan illegal loging, perambahan, perburuan satwa dan konflik satwa yang tidak berkesudahan. Inisiator kongres adalah Alm. Saiful Bahri. Ia salah satu pemikir muda sangat brillian…”

Perjuangan panjang tak kenal lelah memang akhirnya membawa hasil. Saat ini Ekowisata Tangkahan telah berkembang pesat dan menjadi salah satu tujuan utama wisata konservasi alam di Provinsi Sumatera Utara. Tugas telah ditunaikan dengan baik oleh Saiful Bahri. Tepat pada tanggal 6 Agustus 2017, Saiful Bahri kembali menghadap sang Pencipta. Karya monumental Ekowisata Tangkahan akan menjadi catatan sejarah sebagai pengingat si pemikir muda brillian.

(Alm.) Jamaludin, merupakan kader konservasi yang menetap di Desa Karang Gading, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat. Sosok anak muda yang tergerak hatinya untuk mengkonservasi kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut, melalui kegiatan pembibitan dan penanaman serta pengembangan pemanfaatan tanaman obat Tidak hanya itu, Jamaluddin juga melakukan pendampingan terhadap peneliti maupun mahasiswa dan aktif dalam mengedukasi masyarakat sekitar untuk peduli serta ikut menjaga keberadaan kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Luat agar tetap lestari.

Disaat perjuangan belum selesai,  sekitar tahun 2016, Jamaludin dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Meskipun Jamaludin saat ini telah tiada, namun semangat konservasi yang ditularkannya tidak akan pernah pudar dan ia akan tetap dikenang.

(Alm.) Saor P. Hutapea, S.Hut., sosok anak muda yang ditempa dari organisasi mahasiswa pencinta alam di salah satu perguruan tinggi di Simalungun, Sumatera Utara, tempat dia menempuh dan menyelesaikan pendidikannya. Dunia pendidikan inilah yang kemudian membentuk karakternya menjadi pembina bagi generasi muda pencinta alam, di lingkungan kampus maupun sekolah-sekolah.

Sebagai penggiat konservasi, Saor (panggilan akrabnya) juga aktif dalam berbagai kegiatan rehabilitasi hutan. Semangat mudanya kerap mengusik nurani konservasinya untuk melakukan rehabilitasi baik secara individu maupun melalui kelompok-kelompok binaannya. Tapi tepat pada tanggal 27 Mei 2020, segala aktifitasnya pun berakhir sudah. Beliau menghadap sang Pencipta.

 (Alm.) Lailan Syahri Ramadhan, merupakan kader konservasi yang aktif bergerak di lembaga-lembaga konservasi swadaya masyarakat (LSM/NGO). Lailan juga merupakan tokoh penting yang menggerakkan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesai (FK3I) Tingkat Provinsi Sumatera Utara. Beliau wafat pada tanggal 11 Januari 2021 yang lalu.

 Berpulangnya 7 kader konservasi terbaik Sumatera Utara menghadap sang Pencipta, menyiratkan pesan : dibalik duka, ada rasa bangga masyarakat Sumatera Utara karena memiliki sosok kader konservasi yang memberi pembelajaran dan pencerahan tentang memaknai hidup dengan karya-karya nyata dibidang konservasi alam dan lingkungan hidup, yang manfaatnya dapat dirasakan langsung.

 Kader-kader terbaik ini juga memberi teladan bagaimana berbuat totalitas bagi alam dan masyarakat dengan tulus ikhlas, serta bersedia mengorbankan segalanya  bukan hanya pikiran, tetapi juga waktu dan tenaga, dengan sukarela dan tanpa pamrih. Berkarya sampai akhir hayat demi konservasi alam yang lestari, itulah moto yang tertanam di dalam kepribadian mereka.

 Ke 7-nya bukan hanya sebagai pelaku sejarah, tetapi lebih daripada itu merupakan  tokoh-tokoh inspiratif yang bisa menjadi motivasi khususnya bagi generasi muda. Beristirahatlah dalam keabadian pahlawan konservasi……semangat mu akan tetap hidup di dalam sanubari kami. (Sumber : Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara : Idan Marni, Samuel Siahaan, SP dan Evansus Renandi Manalu)

%d blogger menyukai ini: